Metode Pendidikan Dalam Perspektif Islam
I.
PENDAHULUAN
Keberhasilan da’wah Rasulullah SAW dapat
disimpulkan pula sebagai keberhasilan pendidikan yang
merupakan tanggung jawab kenabiannya, kondisi umat yang yang jahiliyyah dapat
berubah menjadi khair al-ummah, tentu hal ini mengindikasikan adanya
metode-metode pendidikan beliau yang tepat dan akurat. Kondisi umat dewasa ini
juga mengalami kemunduran terutama dalam hal moral, maka tentu pendidikan agama
disini harus berperan aktif dalam menyelesaikan permasalahan umat. Sehingga
seyogyanya keberhasilan pendidikan Nabi seharusnya menjadikan contoh dalam
proses kependidikan khususnya dalam
metode pembelajaran Nabi SAW. Nabi Muhammad SAW dalam pembelajaran beliau
mengkonsentrasikan kepada pengajaran akidah yang benar dan tazkiyah al-nafs,
keseimbangan dalam ilmu dan amal, mengajarkan ilmu dan berdakwah, menjaga
kesehatan jasmani dan akal serta bijaksana dalam menyikapi problem, sehingga
diketahui juga bahwa Nabi sangat mengusai berbagai macam metode pengajaran. Keberhasilan pendidikan Nabi Muhammad adalah karena penerapan
metode cinta kasih kepada murid-muridnya, sehingga terjalin ikatan emosional
yang kuat bagi mereka.
Metode pengajaran memegang peranan penting dalam
mendukung keberhasilan pengajaran dan pendidikan. Pengajaran tampak lebih terkait dengan pemberian wawasan
kognitif kepada peserta didik, yang selanjutnya
dapat menimbulkan pengertian yang mendukung
penghayatan dan pengamalan secara lebih mantap. Dengan demikian pengajaran merupakan alat untuk
mencapai tujuan pendidikan, dan untuk tercapainya tujuan pengajaran sangat
ditentukan oleh metode yang
diterapkan.
Islam
sebagai ajaran yang bersifat terbuka, menghargai pendapat manusia atau ijtihad, berorientasi kepada sekarang dan masa depan dan
progresif sangat mendukung adanya upaya-upaya ijtihad dalam bidang metode
pengajaran. Pada makalah ini akan dibahas metode pendidikan dalam perspektif
islam.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Apakah yang dimaksud metode pendidikan perspektif islam?
B. Apa saja macam-macam metode pendidikan perspektif islam?
C. Apa saja faktor-faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam memilih metode pendidikan?
D. Apa saja tujuan, tugas, dan fungsi metode pendidikan perspektif islam?
III. PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Metode Pendidikan
Secara
harfiah “metodik” itu berasal dari kata “metode” (method). Metode berarti suatu
cara kerja yang sistematik dan umum, seperti cara kerja ilmu pengetahuan. Ia
merupakan jawaban atas pertanyaan “bagaimana”.[1][1] Metode dapat diartikan sebagai cara-cara atau
langkah-langkah yang digunakan dalam menyampaikan sesuatu gagasan, pemikiran
atau wawasan yang disusun secara sistematik dan terencana serta didasarkan pada
teori, konsep dan prinsip tertentu yang terdapat dalam berbagai disiplin ilmu
terkait, terutama ilmu psikologi, manajemen, dan sosiologi. Ilmu-ilmu tersebut
erat kaitannya dengan metode karena didalamnya dijumpai pembahasan tentang jiwa
dan perkembangan manusia sebagai salah satu pertimbangan dalam menyampaikan
teori, konsep dan wawasan kepadanya.
Metode
yang terkait dengan menyampaikan teori, konsep, dan wawasan yang terdapat dalam
berbagai bidang ilmu tersebut dinamai metode pengajaran. Sedangkan ilmu yang
mengkaji secara mendalam tentang berbagai metode yang terkait dengan pengajaran
tersebut dinamai metodologi pengajaran.[2][2]
Metode
pendidikan islam adalah prosedur umum dalam penyampaian materi untuk mencapai
tujuan pendidikan didasarkan atas asumsi tertentu tentang hakikat islam sebagai
suprasistem ([soo'prah-sis"tem] sistem yang sangat kompleks, seperti bangsa atau masyarakat).[3][3] Muhammad Athiyah al-Abrasyi mengartikan metode
sebagai jalan yang dilalui untuk memperoleh pemahaman pada peserta didik. Abd
al-Aziz mengartikan metode dengan cara-cara memperoleh informasi, pengetahuan,
pandangan, kebiasaan berpikir, serta cinta kepada ilmu, guru dan sekolah.
Dalam penggunaan metode pendidikan islam yang perlu dipahami adalah
bagaimana seorang pendidik dapat memahami hakikat metode dan relevansinya
dengan tujuan utama pendidikan islam, yaitu terbentuknya pribadi yang beriman
yang senantiasa siap sedia mengabdi kepada Allah SWT. Disamping itu,
pendidikpun perlu memahami metode-metode intruksional yang aktual yang
dideduksikan dari Al-Qur’an, dan dapat memberi motivasi dan disiplin atau dalam
istilah Al-Qur’an disebut dengan pemberian anugerah (tsawab) dan hukuman
(‘iqob).
Selain kedua hal tersebut, bagaimana seorang pendidik dapat mendorong
peserta didiknya untuk menggunakan akal pikirannya dalam menelaah dan
mempelajari gejala kehidupannya sendiri dan alam sekitarnya (QS. Fushshilat: 53,
al-Ghasyiyah: 17-21), mendorong
peserta didik untuk mengamalkan ilmu pengetahuannya dan mengaktualisasikan
keimanan dan ketakwaannya dalam kehidupan sehari-hari (QS. Al-Ankabut: 45,
Thaha: 132, Al-Baqarah: 183). Seorang pendidikpun perlu mendorong peserta didik
untuk menyelidiki dan meyakini bahwa islam merupakan kebenaran yang
sesungguhnya, serta memberi peserta didik dengan praktik amaliah yang benar
serta pengetahuan dan kecerdasan yang
cukup.[4][4]
B.
Macam-Macam
Metode Pendidikan
Dilihat
dari segi langkah-langkah dan tujuan kompetensi yang ingin dicapai, terdapat
sejumlah metode yang dikemukakan
para ahli. Yaitu metode
ceramah, tanya jawab, demonstrasi, karyawisata,
penugasan, pemecahan masalah, diskusi, simulasi, eksperimen, penemuan dan
proyek atau unit.
Macam-macam
metode pengajaran ini secara singkat telah terdapat dalam
perspektif islam dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.
Metode Ceramah
Metode ceramah
adalah cara penyajian pelajaran, yang dilakukan oleh guru dengan penuturan atau
penjelasan lisan secara langsung dihadapan peserta didik. Ceramah dimulai dengan menjelaskan tujuan yang
ingin dicapai, menyiapkan garis-garis besar yang akan dibicarakan, serta
menghubungkan antara materi yang akan disajikan dengan bahan yang telah
disajikan.
Ceramah akan
berhasil apabila mendapatkan perhatian sungguh-sungguh dari peserta didik,
disajikan secara sistemik, menggairahkan, memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk merespons serta memotivasi belajar yang kuat dari peserta didik.
Pada akhir ceramah perlu disampaikan kesimpulan, memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk bertanya, memberikan tugas kepada peserta didik serta
adanya penilaian akhir.
2.
Metode Diskusi dan Tanya Jawab
Metode ini diterapkan oleh Nabi Muhammad saw dalam rangka
memberikan kesan perhatian kepada peserta didik, memberikan motivasi, dan
mengetahui potensi akal peserta didik untuk dapat menjelaskan lagi apa yang
telah peserta didik ketahui. Dan metode ini dapat dijadikan sebagai tolok ukur
akan pemahaman yang dikuasai peserta didik terhadap materi-materi yang telah
diberikan oleh Rasulullah (menyelami sejauh mana tingkat kecerdasan dan
pemahaman peserta didik).
Metode ini
dimulai dengan mempersiapkan pertanyaan dari bahan pelajaran yang akan
diajarkan dan mengajukan pertanyaan. Metode ini banyak digunakan karena dapat
menarik perhatian, memacu keberanian, merangsang daya piker, membangun
keberanian, melatih kemampuan berbicara serta dari tanya jawab tersebut guru mengetahui kemampuan
siswa secara objektif. Disisi lain metode ini juga menimbulkan rasa takut pada
peserta didik tertentu.[5][5]
3.
Metode Ushwah Hasanah
Metode ini tergolong dalam
metode pendidikan agama yang tertua dan paling sulit, dengan metode ini
pendidikan agama disampaikan melalui contoh teladan yang baik dari pendidiknya.
Umar bin Utbah berkata kepada guru anaknya: “Hal pertama yang harus
Anda lakukan dalam mendidik anakku adalah memperbaiki dirimu sendiri, karena
matanya melihatmu. Kebaikan baginya adalah apa yang kau lakukan, dan keburukan
adalah apa yang kau tinggalkan.” (Al-Ajami, 2006: 132)
Dikatakan: carilah guru yang baik agamanya untuk mengajar anakmu,
karena agama anak tergantung pada agama gurunya. Rasul adalah teladan utama
bagi muslimin, (QS Al-Ahzab : 21). Ia
teladan dalam keberanian, konsisten dalam kebenaran, pemaaf, rendah hati dalam
pergaulan dengan tetangga, pada sahabat, dan keluarganya. Pendidik harus
meneladani Rasul dan para sahabat.
4.
Metode Eksperimen
Metode ini
biasanya dilakukan dalam suatu pelajaran tertentu sepert pelajaran yang berhubungan
dengan alam, kimia, dan sejenisnya. Biasanya terhadap ilmi-ilmu alam yang di
dalam penelitian menggunakan metode yang sifatnya objektif. Eksperimen ini
dapat dilakukan didalam kelas, diluar kelas ataupun didalam laboratorium
tertentu.[6][7]
5.
Metode Pemberian
Tugas
Suatu cara
mengajar dimana seorang guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada peserta
didik, sedangkan hasil dari tugas tersebut diperiksa oleh guru dan peserta
didik mempertanggung jawabkannya. Tanggung jawab itu berupa menjawab test yang
diberikan oleh guru baik secara lisan ataupun tertulis.[7][8] Yang terpenting dalam metode ini adalah
melatih peserta didik agar dapat berfikir kritis, bebas dan ilmiah sehingga
dapat memecahkan problem yang
dihadapinya dan dapat mengatasi serta mempertanggung-jawabkannya.
6.
Metode Anugerah
Metode anugerah ini pada
hakikatnya memanafaatkan kecenderungan manusia yang pasti memiliki cita-cita,
harapan dan keinginan. Maka dengan metode ini, sesorang yang mengerjakan
perbuatan yang baik atau mencapai prestasi tertentu, diberikan suatu anugerah
yang menarik sebagai imbalannya. Dengan demikian orang dirangsang untuk
mengejar anugerah yang diinginkan, dengan melakukan suatu perbuatan atau
mencapai suatu prestasi.
Bentuk kongkrit dari
metode ini adalah pemilihan bintang pelajar, pemberian tanda penghargaan,
melalui perlombaan-perlombaan yang para pemenangnya diberikan hadiah-hadiah
menarik.
7.
Metode Hukuman
Metode yang berbentuk
pemberian tindakan tertentu yang dijatuhkan kepada anak didik secara sengaja
dan sadar, sehingga menimbulkan kesusahan bagi mereka yang diharapkan dapat
menimbulkan rasa menyesal dan sadar akan kesalahannya serta berjanji tidak
mengulangi kesalahannya. Metode ini seharusnya dipergunakan oleh pendidik
sebagai alternatif terakhir bila anak didik telah terlebih dahulu diberikan
teguran, peringatan namun mereka masih saja bekelakuan buruk.
Masih banyak lagi
metode-metode pembelajaran yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan masing-masing
dari suatu kegiatan belajar-mengajar.
C.
Faktor-Faktor yang
Perlu di Pertimbangkan dalam Memilih Metode Pendidikan
Sebuah metode
akan menjadi efektif apabial digunakan dengan mempertimbangkan berbagai faktor
sebagai berikut:
1.
Faktor tujuan
dan bahan pelajaran
Sebagaimana
diketahui bahwa setiap proses pendidikan atau pengajaran menargetkan tujuan
tertentu, seperti tujuan yang bersifat kognitif, afektif, atau psikomotorik.
Perbedaan tujuan ini menghendaki adanya perbedaan metode yang digunakan.
Demikian pula, bahan pelajaran yang akan diajarkanpun harus menjadi bahan pertimbangan
dalam memilih metode.
Islam
memberikan panduan dan arahan tentang cara menggunakan metode dengan
memperhatikan tujuan dan bahan pelajaran, yaitu berpadunya metode dan cara-cara
dari segi tujuan dan alat, dengan jiwa ajaran dan akhlak islam yang mulia.
Pendidik muslim, baik sebagai bapak, guru, labia atau da’i, mengambil
tujuan-tujuan metode, prinsip dan alat-alatnya dari akhlak islam. Misalnya guru
memulai pelajarannya dengan menyebut nama Allah dan memuji kepada-Nya, serta
bersholawat yang mulia. Kemudian ditutupnya seperti sewaktu membukanya.[8][9]
2.
Faktor peserta didik
Omar Mohammad al-Toumiy
al-Syaibani mengatakan: “maka diantara kewajiban guru muslim adalah bahwa ia
memahami sepenuhnya kekuatan dan ciri-ciri bio-psikologis, yang bermakna
sekumpulan kekuatan dan ciri-ciri jasmaniah dan psikologis yang mempengaruhi
tingkah laku pelajar pada proses belajarnya. Seorang guru muslim wajib
memelihara dan mempertimbangkan berbagai ciri-ciri peserta didik tersebut dalam
kegiatan pengajarannya untuk menjamin kejayaan dalam pekerjaannya.
3.
Faktor
Lingkungan
Perbedaan
lingkungan harus pula menjadi pertimbangan dalam menetapkan metode pengajaran.
Lingkungan dirumah, sekolah, masyarakat, perpustakaan, laboratorium, dan
sebagainya berbeda-beda. Hal ini menghendaki adanya perbedaan dalam menggunakan
metode pengajaran.
4.
Faktor alat dan
sumber belajar
Alat belajar
dengan berbagai macamnya dan juga bahan belajar yang tersedia dengan berbagai
macamnya, harus jadi pertimbangan dalam menetapkan metode pengajaran. Hal ini
perlu dilakukan, karena setiap metode menghendaki alat dan sumber yang
berbeda-beda. Alat dan sumber belajar untuk metode ceramah misalnya, berbeda
dengan alat dan sumber belajar untuk metode simulasi, eksperimen, dan
sebagainya.
5.
Faktor kesiapan
guru
Penggunaan
setiap metode menuntut wawasan, keterampilan dan pengalaman guru yang akan
menerapkannya. Penggunaan metode ceramah misalnya jauh lebih mudah daripada
penggunaan metode diskusi dengan berbagai macamnya. Seorang guru yang tdak
memiliki wawasan,
pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan metode tersebut, karena tidak
akan berjalan sebagaimana yang diharapkan.[9][10]
D.
Tujuan, Tugas,
dan Fungsi Metode Pendidikan dalam Perspektif Islam
Pendidik
dalam proses pendidikan islam tidak hanya dituntut untuk menguasai sejumlah
materi yang akan diberikan kepada peserta didiknya, tetapi ia harus menguasai
berbagai metode dan teknik pendidikan guna kelangsungan transformasi dan
internalisasi mata pelajaran. Hal ini karena metode dan teknik pendidikan islam
tidak sama dengan metode dan teknik pendidikan yang lain.
Tujuan
diadakan metode adalah menjadikan proses dan hasil belajar mengajar ajaran
islam lebih berdaya guna dan berhasil guna dan menimbulkan kesadaran peserta
didik untuk mengamalkan ketentuan ajaran islam melalui teknik motivasi yang
menimbulkan gairah belajar peserta didik secara mantap. Uraian itu menunjukkan
bahwa fungsi metode pendidikan islam adalah mengarahkan keberhasilan belajar, memberi
kemudahan kepada peserta didik untuk belajar berdasarkan minat, serta mendorong
usaha kerjasama dalam kegiatan belajar mengajar antara pendidik dengan peserta
didik. Disamping itu, dalam uraian tersebut ditunjukkan bahwa fungsi metode
pendidikan adalah memberi inspirasi pada peserta didik melalui proses hubungan
yang serasi antara pendidik dan peserta didik yang seiring dengan tujuan
pendidikan islam.
Tugas utama metode pendidikan islam adalah mengadakan aplikasi
prinsip-prinsip psikologis dan paedagogis sebagai kegiatan antar hubungan
pendidikan yang terealisasi melalui keterangan dan pengetahuan agar siswa
mengetahui, memahami, menghayati dan meyakini materi yang diberikan, serta
meningkatkan keterampilan olah pikir. Selain itu, tugas utama metode tersebut adalah
mambuat perubahan dalam sikap dan minat serta memenuhi nilai dan norma yang
berhubungan dengan pelajaran dan perubahan dalam pribadi dan bagaimana
faktor-faktor tersebut diharapkan menjadi pendorong kearah perbuatan nyata.[10][11]
IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas
penulis menyimoulkan sebagai berikut ;
1. Metode pendidikan dalam perspektif adalah prosedur umum dalam penyampaian materi
untuk mencapai tujuan pendidikan didasarkan atas asumsi tertentu tentang hakikat metode
dan relevansinya dengan tujuan utama pendidikan islam, yaitu terbentuknya
pribadi yang beriman yang senantiasa siap sedia mengabdi kepada Allah SWT.
2. Macam-macam metode pendidikan dalam perspektif islam, yakni metode ceramah,
diskusi dan tanya jawab, uswah hasanah, eksperimen, pemberian tugas, metode
anugerah serta hukuman.
3. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode pendidikan,
yaitu faktor tujuan dan bahan pelajaran, peserta didik, lingkungan, alat dan
sumber belajar serta kesiapan guru.
4. Tujuan metode pendidikan dalam perspektif islam adalah menjadikan
proses dan hasil belajar mengajar ajaran islam lebih berdaya guna dan berhasil
guna dan menimbulkan kesadaran peserta didik untuk mengamalkan ketentuan ajaran
islam melalui teknik motivasi yang menimbulkan gairah belajar peserta didik. Adapun fungsinya adalah mengarahkan keberhasilan belajar, memberi
kemudahan kepada peserta didik untuk belajar berdasarkan minat, serta mendorong
usaha kerjasama dalam kegiatan belajar mengajar antara pendidik dengan peserta
didik. Sedangkan tugasnya adalah mengadakan aplikasi prinsip-prinsip psikologis
dan paedagogis sebagai kegiatan antar hubungan pendidikan yang terealisasi
melalui keterangan dan pengetahuan agar siswa mengetahui, memahami, menghayati
dan meyakini materi yang diberikan, serta meningkatkan keterampilan olah pikir.
B. PENUTUP
Demikian
makalah ini penulis susun, semoga dapat memberi manfaat bagi penulis khususnya
dan pembaca pada umumnya. Penulis berharap kepada pembaca untuk memberikan
kritik dan saran yang bersifat membangun kepada penulis demi perbaikan makalah
yang akan datang.
DAFTAR
PUSTAKA
Cholid. 2009 Manajemen Metode
Pembelajaran Rasulullah SAW (Studi Atas Kitab Tarbiyah al-Nabi Liashabih Karya
Khalid ‘Abdullah al-Qurasyi). Masters thesis,
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Ahmad, Muhammad Abdul
Qadir. 2008. Metodologi Pengajaran Agama Islam.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Daradjat,
Zakiah, et all.. 2001. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta:
Bumi Aksara.
Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakkir. 2010. Ilmu Pendidikan
Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Nata, Abuddin. 2011. Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Ramayulis.
2008. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Abrasyi, Al-, M. Athiyah, Rûh Al-Tarbiyah wa
Al-Ta’lîm, (Kairo: Isa Al-Babi An-Nalabi & Co., t.th.).
Ajami, Al-, Muhammad Abdussalam, Al-Tarbiyah al-Islâmiyah:
Al-Ushûl wa Al-Tathbîqât, (Riyadh: Dâr Al-Nâsyir Al-Daulî, 2006), Cet. I.
http://mcdens13.wordpress.com/2013/04/21/metode-pendidikan-dan-pengajaran-nabi-muhammad-saw-dalam-proses-belajar-mengajar/ 29/11/2013 2:50 pm
[1][1] Dr. Zakiah
Daradjat, et all., Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2001), cet. kedua, hlm. 1
[2][2] Prof. Dr. H.
Abuddin Nata, M.A., Perspektif Islam tentang
Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), edisi
pertama cet. kedua, hlm. 176
[3][3] Prof. Dr. Abdul
Mujib, M.Ag. dan Dr. Jusuf Mudzakkir, M.Si., Ilmu Pendidikan Islam,
(Jakarta: Kencana Prenada Media, 2010), edisi pertama cet. ketiga, hlm. 165
[7][8] Prof. Dr.
Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia,
2008), cet. kelima, hlm. 329
Tidak ada komentar:
Posting Komentar